Kuota Solar Subsidi Tak Mencukupi, Ratusan Kapal Nelayan Kendari Terancam Lumpuh

News506 views

Kendari /// LumbungsuaraIndonesia.com
Kuota solar subsidi untuk nelayan di Kendari, Sulawesi Tenggara dari depo Pertamina Patra Niaga Kendari tidak mencukupi kebutuhan nelayan, kelangkaan ini menjadi isu krusial yang berdampak langsung pada operasional Pelaut.

Sesuai data yang dihimpun Media ini diketahui bahwa kuota yang tersalur di 3 SPBN di Kendari sebesar 908.000 kilo liter (KL) masing masing di SPBN Jayanti 400.000 Kilo Liter (KL), SPBN Lapulu 380.000 (KL) dan SPBN Lelang Sodoha sebanyak 128.000 (KL).

Kuota tersebut tidak sebanding kebutuhan nelayan yang mencapai 368 kapal dan bagan nelayan yang beroperasi di perairan Kendari, yang seharusnya hasil tangkapan dapat memasok ke sejumlah wilayah di Sulawesi seperti ke Morowali Sulteng, Sul – Sel dan juga untuk di ekspor ke mancanegara.

Baca Juga:  Waspada Ujaran Kebencian di Medsos Jelang Pilkada: Bhabinkamtibmas Imbau Masyarakat dan Pelajar di Buton Selatan

Pemerintah dan DPRD diminta untuk turun tangan melihat kondisi kapal nelayan yang kebanyakan parkir di pantai Teluk Kendari, dan Tondonggeu akibat kehabisan BBM.

Sekelompok nelayan menyampaikan keluh kesahnya kepada media ini mengatakan Pengambilan BBM subsidi setiap pengantrian kapal dibagikam sesuai besaran kapal seperti perbedaan pas kecil dan pas besar, SPBN Sodoha kisaran 400-800 liter per 10 hari sementara di SPBN Lapulu yakni 200 liter untuk Pas kecil dan 800 liter untuk kapal Pas besar,  begitupun di SPBN Jayanti.

Sementara penggunaan BBM setiap hari sekali melaut mencapai 100 liter, jadi kalau kita dapat 600 liter kita hanya bisa melaut 6 hari yang seharusnya kita masih melaut tapi kita harus pulang karena BBM sudah habis jelasnya di Kendari (7/5/2026).

Baca Juga:  Komitmen Netralitas Ditegaskan, Plt Rektor UHO Kendari Pastikan Pilrek 2026 – 2030 Berjalan Transparan dan Demokratis

Ditempat terpisah Muhammadong saat dimintai keterangan mengatakan “saya biasanya dapat kuota BBM setiap Minggu 500 liter pak, tapi ada juga yang mendapatkan 1 ton perminggu yang kapal GT 29.

Nelayan kecil sering kali kesulitan mengakses solar subsidi karena persyaratan administrasi yang rumit dan prosedur yang panjang.

Akibat minimnya pasokan, nelayan seringkali kesulitan melaut, sementara harga BBM non-subsidi dilaporkan melonjak, memberatkan biaya operasional.

Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka, sempat menyatakan bahwa stok BBM aman dan meminta warga tidak panik, serta memastikan koordinasi dengan Pertamina tetap berjalan untuk pasokan, terutama di wilayah kepulauan namun hingga kini diketahui belum ada kuota tambahan dari

Baca Juga:  Hut Polairud Ke-74, Ditpolairud Transplantasi Terumbu Karang Wujudkan Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas

Pertamina sementara para nelayan masih tetap mengeluhkan kekurangan pasokan sehingga harus sebagian nelayan terpaksa membeli BBM non-subsidi dengan harga tinggi.

Pihak Pertamina (Okky) selaku perwakilan komrel PT.Pertamina Patra Niaga Kendari saat dikonfirmasi via telepon tidak merespon panggilan dari Wartawan.

Masyarakat nelayan meminta agar Wali Kota Kendari merekomendasikan permintaan masyarakat kepada Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) untuk penambahan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis solar demi kelancaran operasional kapal perikanan khususnya di Kendari.

. . < img src = "https://lumbungsuaraindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260502-WA0001.jpg"/> . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Komentar