Puasa : Profesor NYU Sebut Kebiasaan Ini Bisa Mengguncang Bisnis Kesehatan

News926 views

Kendari//LumbungsuaraIndonesia.com
Sebuah pernyataan tajam dari seorang Profesor di New York University kembali memantik perdebatan tentang hubungan antara gaya hidup sehat dan industri kesehatan modern. Ia menyebut bahwa puasa berpotensi menjadi “musuh” terbesar bagi industri farmasi, karena kebiasaan tersebut diyakini mampu menekan berbagai penyakit kronis yang selama ini menjadi pasar utama obat-obatan.

Menurutnya, jika praktik puasa baik puasa keagamaan maupun pola intermittent fasting dilakukan secara konsisten oleh masyarakat luas, dampaknya tidak hanya terasa pada kesehatan individu, tetapi juga pada struktur ekonomi sektor kesehatan global.
Bayangkan jika semua orang berpuasa secara teratur dan disiplin. Banyak penyakit metabolik bisa ditekan. Konsekuensinya, industri kesehatan akan kehilangan miliaran dolar,  ujarnya dalam sebuah pernyataan yang kemudian ramai diperbincangkan di berbagai forum kesehatan.

Ancaman bagi Model Bisnis Kesehatan
Pernyataan tersebut tidak sekadar retorika. Industri farmasi global selama puluhan tahun bertumpu pada pasar besar yang berasal dari penyakit kronis seperti diabetes, obesitas, hipertensi, hingga gangguan metabolik. Penyakit-penyakit ini sering kali berkaitan erat dengan pola makan berlebih, gaya hidup sedentari, dan konsumsi makanan ultra-proses.
Di titik inilah puasa dianggap sebagai faktor disruptif.

Baca Juga:  Pengamanan Kampanye Cagub dan Cawagub di Muna Barat Berjalan Aman dan Kondusif

Puasa memberi tubuh waktu untuk mengatur ulang metabolisme, menurunkan kadar gula darah, memperbaiki sensitivitas insulin, serta memicu proses perbaikan sel alami yang dikenal sebagai autophagy, mekanisme biologis yang membersihkan sel-sel rusak dan menggantinya dengan yang baru.
Bila praktik ini menjadi gaya hidup massal, maka potensi pasar untuk obat-obatan tertentu bisa menurun drastis.
Bukan berarti dokter atau ahli gizi akan hilang,” kata profesor tersebut. Tetapi model bisnis kesehatan yang selama ini berfokus pada pengobatan penyakit bisa tergeser menuju pencegahan.
Dari Industri Penyakit ke Industri Kesehatan
Pernyataan itu juga menyinggung kritik lama terhadap sistem kesehatan modern yang sering dinilai lebih menekankan pengobatan daripada pencegahan.

Baca Juga:  Kasus Diabetes Tinggi, Mahasiswa Apoteker UHO Turun ke Kambu Edukasi Warga Soal Bahaya Gula

Dalam sistem yang sangat bergantung pada farmasi dan teknologi medis, masyarakat sering datang ke layanan kesehatan setelah penyakit berkembang. Akibatnya, biaya kesehatan terus meningkat, sementara gaya hidup preventif seperti pola makan sehat, olahraga, dan puasa, justru kurang mendapat perhatian.
Padahal berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa pola makan terkontrol dan periode puasa dapat membantu menurunkan risiko berbagai penyakit degeneratif, termasuk diabetes tipe 2, obesitas, hingga gangguan kardiovaskular.

Menariknya, praktik Puasa bukanlah fenomena baru. Ia telah menjadi bagian dari tradisi spiritual dan budaya manusia selama ribuan tahun, mulai dari Ramadhan dalam Islam, puasa dalam tradisi Kristen dan Yahudi, hingga praktik asketisme dalam berbagai kebudayaan Timur.
Kini, ilmu pengetahuan modern justru mulai meneliti kembali praktik tersebut dari sudut pandang biologis.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa pembatasan waktu makan dapat memicu perubahan metabolik yang membantu tubuh beralih dari penggunaan glukosa ke pembakaran lemak sebagai sumber energi, proses yang dapat meningkatkan ketahanan sel terhadap stres dan penyakit.

Baca Juga:  LPPH SULTRA Unjuk Rasa di Kejati Sultra.

Perdebatan yang Masih Berlanjut
Meski demikian, para pakar kesehatan tetap mengingatkan bahwa puasa bukanlah solusi tunggal bagi semua orang. Kondisi medis tertentu seperti diabetes berat, kehamilan, atau penyakit kronis memerlukan pengawasan medis sebelum seseorang menjalani puasa jangka panjang.
Namun satu hal yang jelas: pernyataan profesor tersebut kembali membuka diskusi penting tentang arah masa depan sistem kesehatan.

Apakah dunia akan terus bergantung pada industri obat untuk mengobati penyakit?
Ataukah masyarakat mulai beralih pada pola hidup preventif yang lebih sederhanaseperti puasa yang berpotensi mengubah peta ekonomi kesehatan global?
Perdebatan ini kemungkinan masih akan terus berlangsung, tetapi satu pesan yang mengemuka : kesehatan sejati mungkin tidak selalu dimulai dari apotek ,melainkan dari perubahan cara hidup manusia itu sendiri.

. . < img src = "https://lumbungsuaraindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260502-WA0001.jpg"/> . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Komentar