Akademisi UHO : Lonjakan Harga Emas Cerminkan Kesadaran Investasi dan Strategi Lindung Nilai

News491 views

Kendari//LumbungsuaraIndonesia.com
Kenaikan harga emas dalam sepekan terakhir menjadi sorotan publik. Sejumlah produk logam mulia yang beredar di pasaran, seperti produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam), UBS Gold, hingga Galeri 24, tercatat mengalami penguatan harga yang cukup signifikan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: apakah saat ini merupakan momentum yang tepat untuk membeli emas?

Pengamat ekonomi Sulawesi Tenggara (Sultra), Syamsul Anam, menilai tren kenaikan harga tersebut tidak semata dipicu dinamika pasar global, tetapi juga mencerminkan meningkatnya literasi investasi di kalangan masyarakat.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari itu menjelaskan bahwa masyarakat kini semakin memahami posisi emas sebagai salah satu instrumen investasi yang relatif aman.
Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak membeli emas dalam bentuk perhiasan untuk kebutuhan konsumsi, kini mulai terlihat pergeseran. Minat terhadap emas dalam bentuk logam mulia kepingan sebagai instrumen investasi mengalami peningkatan, ujarnya saat dihubungi, Rabu, 4/3/2026.

Baca Juga:  Manton Minta KPK RI Menindaklanjuti Laporan DPD GSPI Sultra Perihal Gedung Asrama Haji dan Jalan Lingkar Kota Kendari Sultra , Lumbung Suara Indonesia.com Revitalisasi pembangunan Gedung Asrama Haji Kota Kendari yang diduga Mangkrak kini terus menjadi perbincangan hangat oleh masyarakat luas maupun para aktivis Sulawesi Tenggara. Salah satunya yang disuarakan oleh Jaringan Nasional Mahasiswa Merdeka (JARNAS MM) pada Rabu, 05/04/2023, didepan Gedung Merah Putih KPK RI. Menanggapi hal tersebut, DPD GSPI Sultra, melalui Manton selaku Ketua Bidang Humas itu kembali mengingatkan pihak KPK RI agar segera menindaklanjuti laporan DPD GSPI Sultra yang di masukan ke KPK RI pada tanggal 20/03/2023 lalu, dengan Nomor 304.47/LP/DPD GSPI-SULTRA/III/2023, Terkait Gedung Asrama Haji yang Diduga Mangkrak dan paket pekerjaan lainnya. Rabu, 05/04/2023. Selain itu kata Manton, Pihaknya juga meminta kepada KPK RI agar memproses Laporan DPD GSPI Sultra, dengan Nomor 304.47/LP/DPD GSPI-SULTRA/III/2023, perihal "Pembangunan Jalan Lingkar Kota Kendari dengan Anggaran kurang lebih Rp. 69 Miliar. Meski demikian, Pihak Direktorat Pelayanan Laporan dan Pengaduan Masyarakat telah menanggapi laporan DPD GSPI Sultra melalui via WhatsAppnya yang bertuliskan, sebagai berikut : Yth. Pelapor Berdasarkan pengecekan kami, laporan Saudara sedang dalam proses verifikasi oleh petugas kami. Apabila telah selesai akan diberikan tanggapan melalui surat atau telepon kepada alamat/nomor kontak terlampir. Salam, Direktorat Pelayanan Laporan dan Pengaduan Masyarakat KPK Demikian bunyi WhatsApp tersebut pada tanggal 27/03/2023 lalu. "Kami berharap, agar KPK RI segera memanggil dan memeriksa Kepala BPJN Sultra, Satker, PPK dan Pihak Kontraktor serta oknum - oknum yang diduga terlibat didalamnya, ini khusus laporan kami soal Pembangunan Jalan Lingkar Kota Kendari dengan anggaran sebesar Rp. 69 Miliar kurang lebih. Dan juga terkait Gedung Asrama Haji agar segera dilakukan pemanggilan dan pemeriksaan lebih lanjut," Harap Manton.

Menurut Syamsul, perubahan pola tersebut mempertegas peran emas sebagai aset investasi yang memiliki daya tahan kuat, khususnya untuk tujuan investasi jangka menengah hingga jangka panjang.
Ia menjelaskan bahwa pergerakan harga emas tidak pernah berdiri sendiri. Berbagai faktor ekonomi makro turut memengaruhi fluktuasinya, mulai dari kebijakan moneter, tingkat inflasi, hingga kondisi perekonomian global yang tengah berkembang.

Perubahan harga emas sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya kebijakan moneter, tekanan inflasi, serta dinamika perekonomian baik di tingkat nasional maupun global, terangnya.
Dalam konteks saat ini, Syamsul menilai lonjakan harga emas lebih banyak didorong oleh kecenderungan investor mencari instrumen lindung nilai (hedging). Ketidakpastian ekonomi global membuat emas kembali dipandang sebagai aset aman yang mampu menjaga nilai kekayaan.

Baca Juga:  Dukung Program Ketahanan Pangan Nasional Polda Sultra Panen Jagung dan Tabur 1000 Benih Ikan di Lahan Sat Brimob

Fenomena kenaikan harga emas saat ini kemungkinan besar dipicu oleh motif lindung nilai. Ketika situasi global dipersepsikan tidak stabil, investor cenderung mengalihkan asetnya ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti emas, jelasnya.
Selain faktor global, ia juga menyoroti karakteristik pola konsumsi masyarakat Sultra yang kerap meningkatkan permintaan emas pada periode tertentu. Pola tersebut, menurutnya, turut memberi tekanan pada harga di tingkat lokal.

Menanggapi pertanyaan mengenai waktu terbaik untuk membeli emas, Syamsul menyarankan masyarakat untuk tetap bersikap rasional dan mempertimbangkan tujuan investasinya.
Secara teori ekonomi, momentum ideal untuk membeli aset adalah ketika harga berada pada posisi rendah. Namun melihat tren harga emas yang cenderung stabil dengan koreksi yang relatif tipis dalam waktu singkat, keputusan membeli tetap memerlukan pertimbangan yang matang.
Dalam perspektif ekonomi, tentu waktu terbaik membeli adalah saat harga sedang rendah. Namun melihat tren logam mulia yang hanya mengalami koreksi tipis dan berlangsung singkat, masyarakat perlu lebih cermat sebelum mengambil keputusan investasi, tegasnya.

Baca Juga:  Slalom Competition Kapolda Cup I di Kendari, Ajang Mencari Bibit Lokal Berprestasi

Meski demikian, ia menilai emas masih menjadi pilihan yang relevan bagi masyarakat yang berorientasi pada investasi jangka panjang.
Untuk tujuan investasi jangka panjang, membeli emas saat ini masih tergolong pilihan yang baik. Namun bagi mereka yang ingin melakukan perdagangan jangka pendek atau retrading, perhitungan risiko harus benar- benar diperhatikan, tutupnya.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Komentar