Guru SMKN 9 Kolaka Rayu Mekuo : Kami Merasa Terintimidasi Dengan Prilaku Oknum Kades Berlagak Bak Preman Bentak Guru dan Murid.

News87 views

Kolaka, lumbungsuaraindonesia.com Sebelumnya viral video 1 Menit 44 Detik yang mempertontonkan Oknum Kepala Desa di Kecamatan Pomalaa yang membentak Guru dan siswa yang melakukan blokade jalan, akibat dari banyaknya Debu yang berhamburan d jalan raya sehingga menutupi pandangan mata para pengguna jaln termasuk para guru dan murid-murid.

Menanggapi hal tersebut salah satu Guru SMKN 9 Kolaka, Rayu Mekuo mengatakan “Jadi, diawali hari Kamis (21/9) pada saat itu kondisi jalan berdebu dan masuk dilingkungan sekolah, terus terang saja kami merasa terganggu sekali, guru dan siswa sudah banyak yang sakit, dan pada saat itu pihak yang melewati jalan dan melakukan aktivitas penimbunan berjanji melakukan penyiraman, kemudian sampai hari Senin (25/9) tidak ada penyiram,” katanya saat ditemui di ruangan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra pada Senin 2 Oktober 2023.

Ia menambahkan pada hari Senin (25/9) aksi pemblokadean itu spontanitas, pasalnya saat itu Pukul 06.30 WITA pihaknya mau melaksanakan upacara bersama guru dan siswa lainnya.

Baca Juga:  Yudhianto Mahardika Sebagai Kader Gerindra Jadi Prioritas Untuk di Usung Calon Walikota Kendari.

“Di hari Senin itu kita mau upacara, lewat truk dan dalam kondisi balap-balap, hingga menyebabkan debu berhamburan, kemudian siswa-siswa spontanitas melakukan blokade,” tambahnya.

Pihaknya juga mengungkapkan bahwa tak berselang lama datang oknum Kades Kepala yang berteriak-teriak.

“Ada sekitar 15 Menit kemudian datang Kepala Desa, turun dari kendaraannya, datang marah-marah dan berteriak-teriak, kemudian berdebat dengan Guru, hingga menyebutkan kata-kata yang kita tidak terima,” ungkapnya.

“Pada saat itu terjadi cekcok dan kami merasa terintimidasi, pasalnya Kepala Desa juga mengatakan tabrak saja kalau tidak mau diatur, dan Kepala Desa juga berkata kami pemerintah disini dan harus didengar,” bebernya.*

Senada dengan hal tersebut Kadis Dikbud Sultra, Yusmin menegaskan pihaknya bakal melaporkan hal tersebut ke pihak kepolisian, pasalnya tindakan tersebut sudah masuk ke ranah pengancaman.

Baca Juga:  Kadin Sultra Usul Penggunaan Aspal Buton Untuk Skala Nasional, Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kadin Indonesia Sangat Mendukung.

Pihaknya juga mendesak kepada Oknum Kades tersebut untuk melakukan permintaan maaf kepada publik, pasalnya video tersebut telah viral kemana-mana.

Ia juga meminta kepada Bupati Kolaka untuk mengevaluasi Kepala Desa tersebut, agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali.

Sementara itu sebelumnya pemblokiran itu merupakan bentuk protes mereka karena sudah tak tahan dengan debu yang ditimbulkan oleh aktivitas truk perusahaan tambang yang menggunakan jalan tersebut.

Dalam video tersebut nampak terlihat seorang pria menggunakan topi hitam seragam aparatur sipil negara (ASN) yang diduga oknum Kades tiba-tiba mendatangi lalu membentak puluhan pelajar dan guru tersebut.

Setelah ditelusuri dari beberapa sumber terpercaya, ternyata pria yang menggunakan seragam ASN bak preman itu bernama Yastin Sutrisno selaku Kepala Desa Pesouha.

Baca Juga: 

“Jangan kasih begitu. Ini jalan umum. Apa gunanya ibu merekam begitu, kalian tidak mau diatur dengan Pemerintah ka,” kata pria yang menggunakan seragam ASN itu dengan nada membentak sembari menunjuk ke arah pelajar.

Setelah ditelusuri dari beberapa sumber terpercaya, ternyata pria yang menggunakan seragam ASN bak preman itu bernama Yastin Sutrisno merupakan Kepala Desa Pesouha.

Yastin Sutrisno, saat dikonfirmasi melalui telephone seluler mengatakan, bahwa persoalan tersebut sudah diselesaikan melalui mediasi.

“Kita sudah mediasi, untuk sementara waktu akan dilaksanakan penyiraman untuk meminimalisir debu,” katanya.

Yastin Sutrisno menyebut, jalan poros tersebut saat ini tengah dilintasi oleh tiga perusahaan tambang yakni, PT Vale, Perusda Kolaka, dan PT PMS.

“Ada tiga perusahaan yaitu, PT Vale, Perusda Kolaka, dan PT PMS,” pungkasnya.**

. . . . . ' . . . . . . . . . . . . . . . .

Komentar