Kendari/Lumbungsuaraindonesia.com Di tengah maraknya pembahasan kesehatan mental di media sosial, generasi muda diingatkan agar tidak terjebak pada praktik self-diagnosis yang justru berpotensi menyesatkan. Edukasi berbasis literasi dinilai menjadi salah satu pintu masuk penting untuk membangun pemahaman kesehatan mental yang lebih sehat dan berimbang.
Peringatan tersebut disampaikan Dosen Psikologi Universitas Halu Oleo (UHO) sekaligus psikolog klinis, Astri Yunita, saat menjadi narasumber dalam kegiatan literasi Ulik Tilik Buku di Perpustakaan Daerah Kota Kendari, Sabtu 31/1/2026.
Menurut Astri, meningkatnya kesadaran anak muda terhadap isu kesehatan mental merupakan hal positif. Namun, tanpa pemahaman yang memadai, kesadaran tersebut justru dapat berubah menjadi kecenderungan memberi label gangguan pada diri sendiri.
Kecemasan tidak selalu berarti gangguan mental. Bisa saja itu respons emosional yang wajar atau stres ringan. Gangguan kecemasan harus ditetapkan melalui pemeriksaan psikolog klinis dan gejalanya berlangsung minimal satu bulan, ucap Astri.
Ia menjelaskan, kebiasaan menyimpulkan kondisi psikologis secara mandiri kerap dipicu oleh paparan informasi instan di media sosial yang tidak selalu utuh dan kontekstual. Akibatnya, individu mudah merasa dirinya bermasalah padahal masih berada dalam rentang reaksi emosional normal.
Dalam konteks ini, Astri menilai kegiatan literasi berbasis diskusi memiliki peran strategis. Melalui pembacaan karya sastra yang dibedah secara mendalam, peserta tidak hanya memahami cerita, tetapi juga belajar mengenali dinamika emosi, trauma, dan proses psikologis manusia secara lebih reflektif.
Diskusi sastra membuka ruang aman untuk membicarakan emosi, konflik batin, dan trauma tanpa harus memberi label medis. Ini membantu anak muda memahami dirinya secara lebih sehat, tuturnya.
Astri juga menyoroti potensi terbentuknya trauma sejak usia dini yang kerap luput disadari. Trauma, menurutnya, tidak selalu muncul dalam bentuk kejadian besar, tetapi dapat terbentuk dari pengalaman emosional yang berulang dan tidak tertangani.
Terkait meningkatnya kasus depresi hingga bunuh diri di kalangan mahasiswa, Astri menegaskan bahwa penyebabnya tidak pernah berdiri sendiri. Tekanan akademik, masalah keluarga, relasi personal, hingga kondisi psikologis individu sering kali saling berkaitan dan menumpuk.
Keputusan ekstrem bukan lahir dari satu masalah. Biasanya ada akumulasi persoalan yang tidak mendapatkan ruang aman untuk diceritakan dan dipahami, ungkapnya
Ia menambahkan, karakter generasi Z yang tumbuh dalam budaya serba cepat dan instan turut memengaruhi ketahanan emosi. Ketika realitas tidak sesuai ekspektasi, sebagian anak muda cenderung cepat kecewa dan menyalahkan diri sendiri.
Mereka terbiasa melihat hasil cepat. Saat menghadapi proses yang berat, muncul perasaan gagal dan tidak berharga, padahal itu bagian normal dari dinamika hidup, tandasnya.
Melalui kegiatan literasi seperti Ulik Tilik Buku yang diinisiasi komunitas Book Scape, Astri berharap anak muda memiliki ruang alternatif untuk belajar memahami emosi secara lebih mendalam, kritis, dan berimbang.
Ia juga menekankan pentingnya melatih kepekaan sosial sebagai bagian dari kesehatan mental. Menurutnya, fokus berlebihan pada diri sendiri justru dapat mempersempit cara pandang dan memperberat beban psikologis.
Membantu orang lain dan peka terhadap kesulitan sekitar bisa menjadi salah satu cara menjaga kesehatan mental. Proses penyembuhan tidak selalu berangkat dari diri sendiri, tetapi juga dari relasi sosial, pungkasnya.
Kegiatan literasi tersebut berlangsung selama dua jam, mulai pukul 15.30 hingga 17.30 Wita, dan diikuti olehpara Pelajar, Mahasiswa, serta Komunitas literasi di Kota Kendari.
Psikolog UHO Ingatkan Bahaya Self – Diagnosis : Literasi Jadi Pintu Masuk Edukasi Kesehatan Mental Anak Muda
News29 views


.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.




Komentar