Tonggak Kepemimpinan Perempuan di UHO : Fitriyah–Nia Resmi Pimpin BEM 2026

News26 views

Kendari//Lumbungsuaraindonesia.com
Universitas Halu Oleo (UHO) menorehkan sejarah baru dalam dinamika gerakan mahasiswa. Pelaksana Tugas (Plt) Rektor UHO, Dr. Herman, S.H., LL.M., secara resmi melantik Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) UHO periode 2026. Namun lebih dari sekadar pelantikan, momen ini menandai lahirnya kepemimpinan perempuan di pucuk tertinggi organisasi mahasiswa UHO.
Untuk pertama kalinya, BEM UHO dipimpin oleh duet perempuan. Fitriyah Nurainun Natiq Mapatarani resmi menjabat sebagai Ketua BEM, didampingi Nia Astarina sebagai Wakil Ketua. Kepemimpinan ini menjadi simbol perubahan sekaligus penegasan bahwa perempuan memiliki kapasitas, legitimasi, dan keberanian untuk memimpin ruang strategis di lingkungan kampus.
Ketua BEM UHO, Fitriyah Nurainun Natiq Mapatarani, menegaskan bahwa amanah tersebut tidak dimaknai sebagai kemenangan simbolik semata, melainkan sebagai tanggung jawab kolektif untuk menghadirkan kepemimpinan yang inklusif, progresif, dan berdampak nyata bagi mahasiswa.
Pelantikan ini bukan hanya tentang siapa yang memimpin, tetapi tentang arah dan nilai yang ingin kami bawa. Kami ingin memastikan BEM UHO hadir sebagai ruang perjuangan yang adil, setara, dan relevan dengan tantangan zaman, ucap  Fitriyah.
Ia mengungkapkan, sejak proses pencalonan hingga pelantikan, pihaknya telah menyepakati dua program strategis yang menjadi fondasi awal kepemimpinan BEM UHO 2026, yakni Entrepreneur Mahasiswa dan Perempuan Berani Bersuara.
Program Entrepreneur Mahasiswa, menurut Fitriyah, merupakan respons atas perubahan lanskap dunia kerja yang menuntut mahasiswa tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang dan lapangan pekerjaan secara mandiri.
Sementara itu, Perempuan Berani Bersuara kami rancang sebagai ruang aman dan ruang belajar bagi mahasiswa perempuan untuk menguatkan keberanian, kesadaran kritis, serta kapasitas kepemimpinan mereka, baik di kampus maupun di ruang publik,  jelasnya.
Fitriyah menekankan, kepemimpinan perempuan di BEM UHO harus dibuktikan melalui kerja nyata dan program substantif, bukan sekadar narasi representasi.
Kepemimpinan perempuan harus menghadirkan keberpihakan, empati, dan keberanian. Perempuan perlu ruang diskusi, ruang aktualisasi, dan ruang pengambilan keputusan agar tumbuh sebagai pemimpin masa depan, tegasnya.
Ia menutup dengan komitmen bahwa seluruh program kerja BEM UHO akan dirumuskan melalui proses musyawarah bersama seluruh jajaran pengurus, sehingga kepemimpinan yang dijalankan benar-benar mencerminkan aspirasi mahasiswa UHO secara luas.

Baca Juga:  Ahli Waris Tanah di Jalan Mede Sabara Kendari Merasa Aneh dan Janggal atas Jawaban BPN Kendari tentang Asal Muasal Lahirnya Sertifikat 504
. . . . . . . . . . . . . . . . .

Komentar