USN Kolaka–UHO Kendari Olah Limbah Nikel Jadi Beton, Upaya Mitigasi Dampak Lingkungan di Sultra

News67 views

Kolaka //Lumbungsuaraindonesia.com Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka bersama Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara, melakukan inovasi penting: mengolah limbah nikel menjadi beton ramah lingkungan. Langkah ini dilakukan melalui program Kosabangsa (Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat), dengan tujuan memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan., Kolaka, 10/12/2025.

Ketua tim dosen USN Kolaka, La Ode Dzakir, menjelaskan bahwa inovasi ini memanfaatkan slag nikel, limbah dari industri nikel untuk diolah menjadi bahan konstruksi melalui teknologi Reactive Powder Concrete (RPC). Teknologi RPC memungkinkan beton dengan kualitas tinggi tanpa memerlukan bahan tambahan mahal. Pelatihan dilaksanakan di Desa Tambea, Kecamatan Pomalaa, Kolaka, melibatkan warga lokal mulai dari proses pencampuran bahan hingga pencetakan concrete block dan hebel.

Masyarakat Desa Tambea menyambut antusias. Selain potensi produk yang bisa dijual ke luar desa, mereka melihat kemungkinan usaha baru yang mendatangkan penghasilan keluarga. Dzakir menekankan bahwa inovasi ini bukan hanya soal ekonomi tetapi juga solusi konkret menanggulangi limbah industri. Pendanaan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendikti Saintek 2025 membuat program ini bisa berjalan optimal dan memberi dampak nyata.

Baca Juga:  PT WIN Bantah Keras soal Tudingan ada Intervensi Korporasi dalam Penetapan Agus Mariana sebagai Tersangka

Mengapa Inovasi Ini Penting: Dampak Industri Nikel di Sultra & Sulawesi
Industri nikel, meskipun membawa keuntungan ekonomi telah menimbulkan dampak lingkungan dan sosial yang luas di banyak wilayah Sulawesi, termasuk Sultra.
Studi dan laporan terkini menunjukkan sejumlah masalah berikut:

Di sekitar lokasi tambang nikel, desa-desa tercatat mengalami deforestasi hampir dua kali lipat dibanding area tanpa tambang, akibat akuisisi lahan untuk pertambangan. Akibatnya, habitat flora dan fauna khas Sulawesi (termasuk satwa endemik) terancam punah.

Baca Juga:  Balai Karantina Prov. Sultra terima Mahasiswa Magang UHO Kendari

Di Kabupaten Konawe Selatan (Sultra), aktivitas pertambangan nikel telah mencemari sumber air irigasi bagi sawah. Akibatnya, produktivitas pertanian turun dan petani menanggung kerugian ekonomi signifikan.

Kerusakan ekosistem pesisir dan laut Limbah tambang (termasuk tailing dan sedimentasi) telah merusak mangrove, terumbu karang, dan habitat laut di wilayah tambang/pemrosesan nikel. Ini berdampak pada penurunan produktivitas perikanan dan hilangnya mata pencaharian nelayan serta komunitas pesisir.

Praktik pertambangan dan pengolahan nikel tanpa pengelolaan memadai meningkatkan risiko longsor, banjir bandang, dan polusi air. Selain itu, pencemaran limbah tambang dapat membawa dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat sekitar.

Dengan kondisi seperti itu, inovasi pengolahan limbah nikel menjadi bahan bangunan seperti beton bukan sekadar alternatif konstruksi, tetapi juga bagian dari solusi untuk mengurangi beban lingkungan, mengurangi potensi pencemaran, dan memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat lokal.

Baca Juga:  Upacara HUT RI ke-79, Ini Pesan Irjen Pol Dwi Irianto, S.I.K., M.Si Kepada Personel

Kesimpulan ;
Dari Limbah ke Peluang: Beton Ramah Lingkungan & Harapan Baru

Kolaborasi antara USN Kolaka dan UHO Kendari melalui Kosabangsa menunjukkan bahwa limbah industri nikel tidak harus selalu menjadi ancaman lingkungan melainkan bisa diubah menjadi produk konstruksi berguna.

Inisiatif ini relevan dalam konteks Sultra dan Sulawesi pada umumnya, dimana dampak negatif dari pertambangan nikel terhadap hutan, pesisir, lahan pertanian dan mata pencaharian warga sudah nyata. Dengan pendekatan inovatif seperti RPC, ada harapan bahwa limbah nikel bisa dikelola secara lebih berkelanjutan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga desa.

Semoga keberhasilan di Desa Tambea menjadi pijakan untuk replikasi di tempat lain, serta menunjukkan bahwa pembangunan industri dan pelestarian lingkungan bisa berjalan bersama.

. . . . . . . . . . . . . . . .

Komentar