Mekongga : Antara Warisan Leluhur dan Godaan Zaman

News659 views

SultraLumbungsuaraindonesia.com Kerajaan Mekongga merupakan salah satu warisan budaya dan sejarah yang berdiri kokoh sejak abad ke-13. Kerajaan ini dipimpin oleh Raja pertamanya, Sangia Larumbalangi, yang menjadi simbol awal dari sistem kepemimpinan tradisional berbasis monarki di tanah Mekongga.

Sebagaimana kerajaan-kerajaan lain di dunia, sistem monarki menempatkan Raja atau Ratu sebagai pemimpin tertinggi, dan kepemimpinan tersebut dilanjutkan secara turun-temurun melalui garis keturunan — baik kepada putra mahkota maupun kepada saudara Raja bila tidak memiliki keturunan langsung. Sistem ini bukan sekadar struktur politik, melainkan juga bagian dari tatanan adat dan spiritual yang diwariskan oleh para leluhur untuk menjaga kesinambungan dan kehormatan kerajaan.

Baca Juga:  Pesta Rakyat Part 1 ASR - HUGUA di Lapangan Benu-Benua Kendari Tuai Berkah Melimpah bagi Para Pedagang Kecil

Namun, akhir-akhir ini muncul usulan untuk melakukan pemilihan Raja atau Bokeo Mekongga dengan membuka kesempatan bagi siapa saja dari keluarga kerajaan untuk mencalonkan diri. Usulan ini, menurut hemat saya, merupakan penyimpangan dari nilai-nilai adat dan aturan yang telah ditetapkan oleh para leluhur Mekongga.

Sebagai bagian dari trah Mokole Singgere yang berkedudukan di Wilayah Adat Mekongga, saya merasa prihatin melihat arah yang mulai bergeser dari prinsip-prinsip dasar monarki Mekongga. Raja bukanlah jabatan politik yang diperebutkan melalui pemilihan, melainkan amanah dan garis keturunan yang disucikan, yang hanya dapat ditetapkan berdasarkan aturan adat dan pertimbangan para tetua yang memahami garis trah dan spiritual kerajaan.

Baca Juga:  Polda Sultra Gelar Press Release Akhir Tahun 2024, Ungkap Capaian dan Tantangan Tugas

Kekhawatiran saya semakin besar ketika melihat bagaimana tanah Mekongga kini menjadi incaran karena potensi tambangnya yang “seksi”. Jangan sampai kekuasaan adat yang seharusnya dijaga justru dijadikan alat untuk memenuhi kepentingan pribadi atau ekonomi.

Sudah semestinya seluruh pihak yang terlibat mengembalikan proses penetapan Raja Mekongga kepada aturan adat yang asli — sebagaimana yang telah dijalankan oleh para Raja terdahulu. Dengan begitu, kita tidak hanya menjaga marwah Mekongga sebagai kerajaan adat yang berdaulat secara budaya, tetapi juga menjaga kesucian nilai-nilai leluhur yang menjadi fondasi eksistensi kita hingga hari ini.

Baca Juga:  Pengurus IKA SMP 3 Kendari Periode 2025 - 2030 Resmi Dikukuhkan, Yutran: Terima Kasih atas Dukungan dan Bimbingannya

Mekongga harus tetap berdiri di atas adat, bukan di atas kepentingan.

Oleh: Hedianto Ismail I Langgai Tonggi Sura Tadu Bilangari.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Komentar