Di Tengah Gemerlap HUT Kota Kendari dan  UCLG ASPAC 2026, Warga Kembali Tenggelam oleh Banjir Tahunan Kali Wanggu dan Wilayah Lainnya

News460 views

Kendari /// LumbungsuaraIndonesia.com  Pemerintah Kota Kendari telah usai menyelenggarakan dua angenda besar, Hari Ulang Tahun (HUT) Kota ke 195 dan menjadi tuan rumah kegiatan UCLG ASPAC Mei 2026 yang baru saja ditutup pada Minggu, 10/5., namun warga di sejumlah wilayah justru kembali menghadapi kenyataan pahit: banjir tahunan yang belum juga terselesaikan.

Hujan berintensitas tinggi yang masih mengguyur Kota Kendari menyebabkan debit air Kali Wanggu meningkat drastis hingga meluap ke kawasan permukiman. Rumah-rumah warga terendam, akses jalan terputus, aktivitas ekonomi lumpuh, dan kecemasan kembali menyelimuti masyarakat yang saban tahun hidup dalam bayang-bayang bencana yang sama.

Di beberapa lokasi, genangan air mulai seakan menjadi tamu di beberapa rumah warga. Jalan lingkungan berubah menjadi aliran sungai berwarna cokelat pekat. Di tengah genangan itu, warga hanya bisa menyelamatkan barang-barang seadanya sembari berharap air segera surut.

Namun pertanyaan mendasar kembali muncul: Mengapa persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun ini belum juga menemukan solusi yang nyata?
Ironi di Balik Narasi Kota Maju

Baca Juga:  *PGM Resmikan Basecamp dan Soft Opening Cafe Sultan*

Perayaan HUT Kota Kendari seharusnya menjadi momentum evaluasi terhadap capaian pembangunan, bukan sekadar seremoni tahunan. Demikian pula agenda Internasional UCLG ASPAC 2026, yang  mempertemukan Pemerintah Kota – Kota di kawasan Asia Pasifik untuk membahas isu pembangunan perkotaan berkelanjutan.

Ironisnya, di saat pemerintah berbicara tentang kota modern, tangguh, dan berkelanjutan, sebagian warganya masih harus berjibaku dengan banjir yang datang berulang hampir setiap musim hujan.

Kota yang layak dipromosikan ke panggung Internasional bukan hanya Kota yang memiliki agenda besar dan tata Kota yang representatif, tetapi kota yang mampu menjamin keamanan ekologis dan kualitas hidup masyarakatnya.

Secara ilmiah, banjir di DAS Wanggu merupakan konsekuensi dari kombinasi berbagai faktor, antara lain:
Degradasi kawasan hulu dan berkurangnya tutupan vegetasi;
Sedimentasi sungai yang mengurangi kapasitas tampung air;
Penyempitan badan sungai akibat aktivitas pembangunan;

Curah hujan tinggi memang menjadi pemicu, tetapi besarnya dampak sangat ditentukan oleh kualitas pengelolaan lingkungan dan konsistensi kebijakan tata ruang.
Dengan demikian, banjir ini tidak dapat dipandang semata sebagai fenomena alam, melainkan sebagai indikator adanya persoalan mendasar dalam tata kelola Sumber Daya Air.

Baca Juga:  Anton Timbang: Kadin Sultra Siap Musprov dengan Organisasi Profesional dan Bersih Narkoba

Penanganan banjir Kali Wanggu sejatinya tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Kendari. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki peran strategis dalam menyinergikan kebijakan lintas sektor, termasuk rehabilitasi kawasan hulu, pengendalian alih fungsi lahan, dan penguatan koordinasi antar kabupaten/kota dalam satu wilayah sungai.

Di sisi lain, Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV sebagai instansi teknis di bawah Kementerian Pekerjaan Umum memegang kewenangan dalam pengelolaan sungai, normalisasi alur, pembangunan infrastruktur pengendali banjir, serta pemeliharaan sistem pengendalian daya rusak air.

Karena itu, banjir yang terus berulang di DAS Wanggu juga menuntut evaluasi terhadap efektivitas program yang telah dijalankan, baik oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Koordinasi lintas kewenangan tidak boleh berhenti pada rapat dan dokumen perencanaan, tetapi harus terwujud dalam langkah nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Baca Juga:  Sebagai Ketua Kadin Sultra, Anton Timbang Dukung Pembangunan PLTN Guna Peningkatan Ekonomi Sultra

Bagi warga yang rumahnya terendam, banjir bukan sekadar angka statistik. Ia berarti kerugian ekonomi, ancaman penyakit, terganggunya pendidikan anak, dan beban Psikologis yang datang berulang.

Karena itu, yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya bantuan darurat dan pernyataan keprihatinan, tetapi langkah konkret seperti:
Rehabilitasi menyeluruh DAS Wanggu;
Normalisasi sungai berbasis kajian lingkungan;
Pembangunan kolam retensi dan sistem drainase yang memadai;
Penertiban pemanfaatan ruang di kawasan rawan banjir;
Sistem peringatan dini dan mitigasi yang efektif.

Perayaan HUT Kota Kendari dan kesiapan menjadi tuan rumah UCLG ASPAC 2026 semestinya menjadi momentum pembuktian bahwa pembangunan benar-benar berpihak pada keselamatan warga.
Selama air Kali Wanggu masih meluap dan menenggelamkan rumah-rumah masyarakat, maka setiap perayaan kemajuan akan selalu menyisakan paradoks.

Sebab ukuran keberhasilan sebuah Kota bukan terletak pada megahnya panggung seremoni, melainkan pada kemampuan Pemerintah di semua tingkatan Kota, Provinsi, hingga Pusat untuk memastikan warganya tidak terus-menerus hidup dalam siklus bencana yang sama.

. . < img src = "https://lumbungsuaraindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260502-WA0001.jpg"/> . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Komentar