Ketika Budaya Muna Menatap Era Digital : Akademisi dan Tokoh Adat Serukan Regenerasi

News38 views

Muna III LumbungsuaraIndonesia.com Kebudayaan Muna menghadapi tantangan baru di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi digital. Warisan leluhur tidak lagi cukup hanya dijaga dalam ruang-ruang adat, tetapi dituntut mampu hadir, dikenal, dan dipahami oleh generasi baru melalui medium yang mereka gunakan sehari-hari.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Bingkai Budaya yang digelar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo (FIB UHO) Kendari bersama Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Provinsi Sulawesi Tenggara, DPD Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) Kabupaten Muna, dan TVRI Sulawesi Tenggara.

Mengangkat tema “Program dan Kebijakan Fakultas Ilmu Budaya UHO Kendari  bersama KKMM, MAKN dan TVRI Sultra dalam Mendukung Pengembangan dan Pelestarian Kebudayaan Muna di Era Modernisasi dan Digitalisasi”, kegiatan tersebut menjadi ruang bertemunya kalangan akademisi, tokoh adat, organisasi masyarakat, media, dan generasi muda untuk membicarakan masa depan kebudayaan Muna.

Mahasiswa dan mahasiswi FIB UHO Kendari membuka acara melalui pertunjukan Tari Pokalalambu dan Tari Kadandio.

Jalannya seminar dipandu Edi Asis, SM dari TVRI Sulawesi Tenggara. Sejumlah tokoh turut hadir dan memberikan perhatian terhadap agenda pelestarian kebudayaan, di antaranya Plt. Rektor UHO Prof. Dr. Khairul Munadi, Dekan FIB UHO Prof. Dr. Akhmad Marhadi, S.Sos., M.Si., Dr. La Ode Muhammad Bariun, S.H., M.H., Prof. Dr. Usman Rianse, M.Si., Prof. Dr. La Ode Sidu Marafat, M.Si., serta Ketua DPD MAKN Kabupaten Muna YM La Ode Riago, S.H.

Baca Juga:  Putusan Inkrah Bukan untuk Diragukan: Relawan Keadilan Tegur Kantah BPN Kota Kendari”

Ketua DPD MAKN Kabupaten Muna, YM La Ode Riago, S.H., melihat perhatian terhadap kebudayaan nasional saat ini memperoleh ruang yang semakin besar. Salah satunya ditandai dengan pembentukan Kementerian Kebudayaan oleh Presiden RI Prabowo Subianto.

Menurutnya, penguatan kebudayaan membutuhkan kesadaran sejarah yang tidak dibangun berdasarkan kepentingan atau pemahaman sepihak.
Berbicara sejarah itu bukan berbicara egois karena pengetahuan sejarah saat ini hanya masing-masing dari pendengarannya saja, tegas La Ode Riago.

Sementara itu, Prof. Dr. Usman Rianse menyoroti tantangan lain yang tidak kalah penting, yakni bagaimana membuat kebudayaan Muna tetap relevan di tengah perubahan pola komunikasi masyarakat.
Ia menilai kekayaan filosofi budaya Muna harus dikemas dengan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda, termasuk memanfaatkan teknologi digital sebagai ruang baru untuk memperkenalkan kearifan lokal.

Budaya Muna memiliki filosofi yang sangat tinggi. Tantangan kita hari ini adalah bagaimana mengemas kearifan lokal itu agar menarik bagi Gen Z dan memiliki nilai ekonomi, ujarnya.

Baca Juga:  Polda Sultra Gelar Tactical Floor Game (TFG) Pam Debat Publik Pertama Pilgub Di Kota Baubau

Menurut Usman, kerja bersama antara perguruan tinggi, komunitas masyarakat Muna, lembaga adat, dan media menjadi salah satu kunci agar budaya tidak berhenti sebagai bagian dari seremoni.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, KKMM, MAKN dan TVRI Sultra ini adalah langkah tepat untuk membawa budaya Muna dari panggung seremonial menjadi budaya yang hidup di ruang digital, katanya.

Pandangan mengenai keberlanjutan budaya juga disampaikan Prof. Dr. La Ode Sidu Marafat, M.Si. Ia menekankan pentingnya pendataan dan pemetaan kebudayaan secara sistematis untuk mengetahui kondisi setiap unsur budaya yang dimiliki masyarakat Muna.

Menurutnya, inventarisasi diperlukan untuk mengidentifikasi budaya yang masih berkembang maupun yang mulai berada dalam kondisi terancam punah. Terhadap warisan budaya yang mulai kehilangan eksistensinya, langkah revitalisasi dinilai perlu dilakukan.

Namun, menurut La Ode Sidu, pelestarian tidak akan memiliki masa depan apabila generasi muda tidak diberi ruang untuk mengambil bagian.
Ia mengingatkan agar generasi yang lebih senior tidak terus mendominasi ruang kebudayaan, sementara kaum muda hanya ditempatkan sebagai penonton.

Satu lagi yang harus diingat bahwa dalam merawat dan pengembangan budaya itu diperlukan peran pemuda atau generasi muda atau Gen Z. Jangan yang sudah berumur dan paham sejarah terus merebut panggung. Jadi tugas kita sebagai senior atau orang tua memberikan peran bagi generasi muda, tegasnya.

Baca Juga:  Kapolri Pimpin Pelantikan Sejumlah Kapolda dan Pengukuhan 2 Jabatan Baru di Polri

Dekan FIB UHO Kendari, Prof. Dr. Akhmad Marhadi, S.Sos., M.Si., menegaskan posisi perguruan tinggi dalam pengembangan kebudayaan tidak sebatas sebagai penyelenggara kegiatan, tetapi juga sebagai pusat kajian dan pengembangan pengetahuan.

Ia menyebut hubungan dan kolaborasi antara FIB UHO Kendari dengan pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi selama ini telah berjalan dengan baik dan dapat terus diperkuat dalam agenda kebudayaan.

Seminar Bingkai Budaya tersebut pada akhirnya tidak sekadar menjadi forum diskusi tentang masa lalu. Lebih jauh, kegiatan itu memperlihatkan adanya kebutuhan untuk merumuskan cara baru dalam menjaga warisan budaya Muna agar tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.

Pelestarian budaya membutuhkan dokumentasi, kajian Akademik, dukungan Lembaga Adat, peran Media, serta keberanian memberikan ruang kepada generasi muda.

Sebab, budaya yang hanya disimpan sebagai kenangan berisiko kehilangan generasi penerus. Sebaliknya, budaya yang mampu beradaptasi dengan zaman berpeluang tetap hidup, berkembang, sekaligus menjadi identitas yang terus diwariskan.

. . . . . . . . .

Komentar