Pengukuhan Kepemimpinan Adat Surakarta : Merajut Kembali Persaudaraan Kerajaan Nusantara

News389 views

Surakarta III LumbungsuaraIndonesia.com         Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta kembali menjadi ruang penting bagi pertemuan para pemangku adat dan kerajaan Nusantara. Dalam suasana adat yang khidmat, dilaksanakan prosesi Hanjangkepi Jumeneng Ndalem, sebagai rangkaian pengukuhan SISKS Pakubuwono XIV Hangabehi sebagai pemimpin adat Keraton Kasunanan Surakarta yang baru.

Prosesi tersebut tidak hanya memiliki makna bagi keberlanjutan tradisi dan tata adat Keraton Surakarta, tetapi juga menjadi momentum bertemunya para pemimpin adat dari berbagai wilayah Nusantara. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa warisan kerajaan dan kesultanan Nusantara masih memiliki ruang penting dalam menjaga identitas, kebudayaan, serta hubungan kekerabatan antarkomunitas adat di Indonesia.

Salah satu tokoh yang hadir dalam momentum tersebut adalah PYM La Ode Riago, SH., Raja Muna. Kehadirannya membawa representasi budaya Muna, Sulawesi Tenggara, dalam sebuah forum yang mempertemukan berbagai tradisi kerajaan dan adat dari wilayah Nusantara.
La Ode Riago hadir mengenakan busana kebesaran yang dipadukan dengan tenun khas Masalili berwarna kuning keemasan. Pilihan busana tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari tata penampilan dalam sebuah acara adat, tetapi sekaligus memperlihatkan identitas budaya yang dibawa dari tanah Muna.

Baca Juga:  Dugaan Penipuan 1 Miliar Lebih, PH Korban dan Ketua DPD LIN Sultra Himbau Kapolresta Kendari Evaluasi Penyidik yang Tak Profesional

Tenun Masalili merupakan salah satu bagian dari kekayaan tekstil tradisional masyarakat Muna. Corak, warna, dan proses pembuatannya merepresentasikan pengetahuan budaya yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, kehadiran Raja Muna dengan busana berbasis tenun lokal menjadi bentuk representasi budaya daerah di tengah pertemuan para pemimpin adat Nusantara.

Jabat Tangan yang Menjadi Simbol Persaudaraan.
Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah ketika Raja Muna berjabat tangan dengan salah seorang pemimpin adat lainnya. Secara visual, momen tersebut sederhana. Namun dalam perspektif kebudayaan, pertemuan dua pemimpin adat dari wilayah yang berbeda memiliki makna simbolik yang kuat.

Jabat tangan itu merepresentasikan hubungan persaudaraan yang melampaui batas geografis. Muna di Sulawesi Tenggara dan Surakarta di Jawa memiliki sejarah, tradisi, bahasa, serta karakter kebudayaan yang berbeda. Namun keduanya bertemu dalam satu ruang kebangsaan yang sama melalui penghormatan terhadap adat dan warisan leluhur.

Baca Juga:  Mahasiswa UHO Kendari Ukir Prestasi Nasional, Raih Medali Perak pada NESCO II Lewat Inovasi Teknologi

Pertemuan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa keberagaman budaya Nusantara tidak harus ditempatkan sebagai sekat yang memisahkan, melainkan sebagai kekayaan yang dapat memperkuat hubungan antardaerah.

Majelis Adat Kerajaan Nusantara dan Ruang Persatuan Budaya.
Momentum pengukuhan di Surakarta juga menjadi istimewa karena dihadiri para pemimpin kerajaan dan lembaga adat dari berbagai wilayah Indonesia yang tergabung dalam Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN).

Kehadiran para Sultan, Raja, dan pemimpin adat dari berbagai penjuru Nusantara memperlihatkan adanya ruang dialog dan silaturahmi antarkerajaan yang tetap terpelihara di tengah perkembangan masyarakat Indonesia modern.

Keragaman tersebut mencakup berbagai bentuk tradisi, sistem kekerabatan, simbol kebesaran, busana adat, bahasa, serta tata upacara yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Namun seluruh perbedaan itu bertemu dalam satu kerangka kebangsaan: Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam konteks tersebut, kerajaan dan komunitas adat tidak semata-mata dipandang sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem kebudayaan nasional yang memiliki peran dalam merawat memori kolektif, nilai tradisi, dan identitas masyarakat.

Baca Juga:  Chess Open Cup UHO 2026 : Prof. Khairul Munadi Dorong Catur Dikembangkan Berbasis Sains dan Neuroscience

Dari Timur Nusantara, Sebuah Pesan Kebudayaan
Kehadiran Raja Muna di Surakarta menjadi gambaran kecil dari luasnya jejaring kebudayaan Nusantara. Tenun Masalili yang dikenakan menjadi representasi budaya Muna; sementara Keraton Surakarta menjadi salah satu pusat penting tradisi Jawa.

Keduanya berada dalam bentang geografis yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh satu kepentingan yang sama: menjaga warisan budaya dan memperkuat hubungan persaudaraan antarpemangku adat Nusantara.

Dari Surakarta, pesan kebudayaan itu kembali ditegaskan: laut boleh memisahkan pulau, tetapi kebudayaan dan sejarah tidak harus menjadi batas bagi persaudaraan.

Pertemuan para pemimpin adat dalam momentum Jumeneng Ndalem menjadi pengingat bahwa Nusantara dibangun bukan hanya oleh kesamaan, tetapi juga oleh keberagaman yang saling menghormati.

Dan dari ruang Keraton Surakarta, persaudaraan itu menemukan kembali bentuknya bukan sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai ikhtiar kebudayaan untuk menjaga warisan leluhur agar tetap memiliki tempat dalam perjalanan Indonesia masa kini dan masa depan.
Surakarta, Sabtu 5 September 2026.

. . . . . . . . .

Komentar