Kendari III LumbungsuaraIndonesia.com Memasuki usia ke – 45, Universitas Halu Oleo (UHO) didorong untuk tidak berhenti pada pencapaian akademik dan penguatan kelembagaan. Perguruan tinggi negeri terbesar di Sulawesi Tenggara itu dituntut meningkatkan relevansinya sebagai pusat produksi pengetahuan, inovasi dan sumber daya manusia yang mampu memberikan kontribusi terukur terhadap pembangunan daerah maupun Nasional.
Arah tersebut menjadi pesan utama Pelaksana Tugas (Plt) Rektor UHO, Prof. Dr. Khairul Munadi, dalam Rapat Senat Terbuka Dies Natalis ke-45 UHO di Auditorium Mokodompit UHO, Rabu (19/8/2026). Menurut Khairul, posisi UHO di kawasan Indonesia Timur memberikan modal strategis untuk mengambil peran lebih besar, terutama dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam Sulawesi Tenggara melalui pendekatan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi.
Karena itu, kekuatan akademik yang telah dimiliki harus diikuti pembenahan tata kelola agar proses pengambilan keputusan, pelayanan dan pengembangan institusi berlangsung lebih efektif, efisien dan adaptif terhadap kebutuhan zaman.
“Harapannya UHO secara institusi semakin kuat dan berkembang. Posisi UHO sebenarnya sangat strategis sebagai salah satu perguruan tinggi besar di kawasan Indonesia Timur, ujar Khairul.
Ia menjelaskan, status akreditasi institusi Unggul, dukungan sumber daya manusia akademik dan tenaga kependidikan merupakan fondasi penting bagi UHO untuk melakukan ekspansi peran. Namun, modal tersebut perlu diperkuat melalui tata kelola yang profesional serta jejaring kolaborasi yang lebih luas dengan pemerintah daerah, sektor industri dan dunia usaha. Sinergi lintas sektor dinilai menjadi instrumen penting agar hasil pendidikan dan penelitian tidak berhenti di lingkungan kampus, melainkan dapat diterjemahkan menjadi inovasi dan solusi atas persoalan pembangunan.
Perguruan tinggi harus menjadi tulang punggung kebangkitan Indonesia, tegasnya.
Sejalan dengan tema Dies Natalis ke – 45, “Unggul, Inovatif, dan Berdampak bagi Negeri”, UHO menempatkan capaian kelembagaan sebagai pijakan untuk memperbesar manfaat sosial. Dalam konteks tersebut, kekayaan sumber daya alam Sulawesi Tenggara dipandang bukan semata sebagai komoditas ekonomi, tetapi sebagai ruang pengembangan riset dan inovasi yang membutuhkan keterlibatan perguruan tinggi agar dapat menghasilkan nilai tambah serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Dari sisi kinerja kelembagaan, Khairul memaparkan perkembangan UHO sepanjang periode 1 Agustus 2025 hingga 31 Juli 2026. UHO kini menaungi 116 program studi, terdiri atas tiga program doktor, 25 magister, lima program profesi, 78 sarjana dan lima Diploma III. Sebanyak 41 program studi atau 35,34 persen telah memperoleh akreditasi Unggul.
Selain itu, terdapat tiga prodi berstatus A, 51 Baik Sekali, sembilan B, sembilan Baik, dua Baik Sementara dan satu program studi baru yang belum terakreditasi. Dari 114 prodi yang tercatat dalam dua periode penilaian, 31 mengalami perubahan status, dengan 27 prodi meningkat dan empat lainnya mengalami penurunan. Pada saat yang sama, jumlah program studi yang mengantongi akreditasi internasional meningkat dari enam menjadi sembilan prodi.
Pertumbuhan tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas mahasiswa.
Pada penerimaan mahasiswa baru 2026, UHO menerima 8.180 mahasiswa, masing-masing 2.104 melalui SNBP, 3.034 melalui SNBT dan 3.042 melalui jalur mandiri. Sementara itu, jumlah mahasiswa aktif pada semester genap tahun akademik 2025/2026 mencapai 35.295 mahasiswa yang tersebar di 14 fakultas dan Pascasarjana.
Untuk menopang ekosistem pendidikan dan riset, UHO juga mengembangkan Laboratorium Terpadu dan Laboratorium Kebun Hayati sebagai fasilitas praktikum, penelitian serta pengembangan inovasi multidisiplin. Sistem pembelajaran daring melalui SPADA turut diperkuat sebagai bagian dari penerapan model pembelajaran campuran atau blended learning. Di sektor kemahasiswaan, kampus mempertahankan kebijakan afirmatif melalui beasiswa, keringanan UKT dan berbagai bentuk dukungan bagi mahasiswa kurang mampu, mahasiswa berprestasi, korban bencana, serta mahasiswa yang kehilangan orang tua selama masa studi.
Khairul menegaskan, seluruh capaian tersebut tidak boleh diposisikan sebagai titik akhir. Evaluasi atas kinerja satu tahun terakhir justru menjadi dasar untuk memperbaiki kelembagaan dan meningkatkan mutu layanan akademik.
Dengan konsolidasi internal, penguatan tata kelola dan kolaborasi eksternal, UHO diharapkan mampu mengubah keunggulan akademik menjadi kekuatan sosial-ekonomi yang nyata bagi masyarakat.


.
.
.
.
.
.
.
< img src = "https://lumbungsuaraindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260502-WA0001.jpg"/>
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.





Komentar