Delapan Guru Besar Baru, Delapan Kepakaran Strategis untuk Menjawab Tantangan Zaman

News73 views

Kendari II LumbungsuaraIndonesia.com Pengukuhan Delapan Guru Besar Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari tidak hanya menambah jumlah profesor di lingkungan kampus, tetapi juga memperkuat kapasitas keilmuan pada berbagai sektor strategis yang menjadi kebutuhan pembangunan nasional maupun daerah.

Setiap Profesor membawa kepakaran yang berbeda dengan fokus riset yang relevan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, lingkungan, tata kelola pemerintahan, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Plt. Rektor UHO, Prof. Dr. Khairul Munandi, S.T., M.Eng., dalam sambutannya menegaskan bahwa jabatan Guru Besar bukanlah akhir dari perjalanan seorang akademisi, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, menghasilkan riset berkualitas, serta memberikan solusi bagi berbagai persoalan bangsa.

Plt. Rektor UHO Kendari juga menekankan bahwa seorang Guru Besar harus tampil sebagai academic leader, yakni pemimpin intelektual yang tidak hanya unggul dalam kompetensi keilmuan, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam integritas, membangun budaya kolaborasi, membimbing generasi muda, serta memperkuat ekosistem penelitian di lingkungan perguruan tinggi.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa gelar profesor membawa tanggung jawab moral yang jauh lebih besar dibanding sekadar pencapaian jabatan akademik. Profesor dituntut melahirkan karya ilmiah yang berdampak, membangun jejaring kolaborasi nasional maupun internasional, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Baca Juga:  PT. Wijaya Inti Nusantara (WIN) Tetap Komitmen Berdayakan Masyarakat Sekitar Lingkar Tambang.

Berikut delapan Guru Besar yang dikukuhkan beserta bidang kepakaran dan tema orasi ilmiahnya:

1. Prof. Ir. La Ode Muhammad Yasir Haya, S.T., M.Si., Ph.D. (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan/FPIK).
Dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Eksplorasi dan Pemodelan Ekosistem Pesisir-Kelautan. Melalui orasi ilmiah bertajuk “Eksplorasi dan Pemodelan Ekosistem Pesisir Lautan”, ia menekankan pentingnya pengelolaan kawasan pesisir berbasis ilmu pengetahuan sebagai fondasi pembangunan kelautan yang berkelanjutan.

2. Prof. Dr. Drs. Kodirun, M.Pd. (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan/FKIP).
Meraih jabatan Guru Besar dalam bidang Pembelajaran Matematika di Sekolah Menengah. Orasi ilmiahnya berjudul “Kompetensi Logika Operasional dan Penalaran Logis pada Siswa Sekolah Menengah Atas di Kota Kendari” mengangkat pentingnya penguatan kemampuan berpikir logis sebagai dasar peningkatan kualitas pendidikan matematika.

3. Prof. Dr. Drs. Syamsul Alam, M.Si. (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/FISIP).
Dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Administrasi Keuangan Negara/Daerah. Melalui orasi “Administrasi Keuangan Daerah untuk Masa Depan: Kesehatan Fiskal, Nilai Aset Publik, dan Ekosistem Kebijakan yang Terkoneksi”, ia menawarkan perspektif baru mengenai tata kelola keuangan daerah yang transparan, adaptif, dan berkelanjutan.

Baca Juga:  Komitmen Bank Sultra untuk ASN dan Daerah dalam Perayaan HUT KORPRI Ke 54

4. Prof. Dr. H. M. Najib Husain, S.Sos., M.Si. (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/FISIP).
Mengukuhkan kepakarannya pada bidang Komunikasi Pembangunan. Dalam orasi bertajuk “Hybrid Development Communication: Menjembatani Big Data dan Kearifan Lokal dalam Pembangunan Berkelanjutan”, ia menyoroti pentingnya mengintegrasikan teknologi digital dengan nilai-nilai lokal dalam mendukung pembangunan yang inklusif.

5. Prof. Dr. Ir. Hj. Rosmarlinasiah, M.P. (Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan/FHIL).
Dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Manajemen Sumber Daya Hutan. Orasi ilmiahnya, “Pengelolaan Sumberdaya Lebah Madu Apis dorsata binghamii dalam Mendukung Eksistensi Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat”, menegaskan bahwa konservasi hutan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.

6. Prof. Dr. Ir. Hj. Nini Hasriyani Aswad, S.T., M.T. (Fakultas Teknik/FT)
Meraih jabatan Guru Besar dalam bidang Rekayasa Material Konstruksi. Melalui orasi “Rekayasa Kayu Jati Putih Sulawesi Tenggara melalui Teknologi Impregnasi Nano”, ia memperkenalkan inovasi teknologi material yang berpotensi meningkatkan kualitas dan daya tahan kayu lokal untuk kebutuhan konstruksi modern.

Baca Juga:  Terobosan Strategis dari Anton Timbang Sebagai Ketua Kadin Sultra Terhadap Aspal Buton Untuk di Gunakan Secara Nasional.

7. Prof. Dr. Ir. Edward Ngii, S.T., M.T. (Fakultas Teknik/FT).
Dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Rekayasa Konstruksi Jalan dan Jembatan. Orasi ilmiahnya berjudul “Pengembangan GEORAP (Geopolymer for Road Application): Dari Limbah Lokal Menuju Perkerasan Jalan Berkelanjutan di Indonesia” mengangkat inovasi pemanfaatan limbah lokal sebagai material ramah lingkungan untuk pembangunan infrastruktur.

8. Prof. Dr. Muhammad Rusli, M.Kes. (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan/FKIP)
Meraih jabatan Guru Besar dalam bidang Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi. Melalui orasi “Penerapan Metode Pembelajaran dan Motor Educability dalam Pendidikan”, ia menekankan pentingnya pendekatan pembelajaran yang mampu mengoptimalkan kemampuan motorik peserta didik sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas.

Delapan bidang kepakaran tersebut mencerminkan luasnya spektrum keilmuan yang dikembangkan Universitas Halu Oleo. Mulai dari pengelolaan sumber daya pesisir, pendidikan, tata kelola pemerintahan, komunikasi pembangunan, kehutanan, teknologi material, infrastruktur, hingga kesehatan dan pendidikan jasmani. Keberagaman ini menjadi modal strategis bagi UHO Kendari dalam memperkuat peran sebagai pusat riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat di kawasan timur Indonesia.

. . . . . . < img src = "https://lumbungsuaraindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260502-WA0001.jpg"/> . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Komentar